diklik.co
Gaya Hidup

Narasi Panjang, Aksi Pendek : Bupati Curhat, Rakyat Curhat ke Siapa?

Redaksi
Redaksi
Dipublikasi21 Maret 2026
Narasi Panjang, Aksi Pendek : Bupati Curhat, Rakyat Curhat ke Siapa?
Iklan

leaderboard

Diklik.co - Di tengah tumpukan persoalan yang kian menggunung, publik di Kabupaten Indragiri Hilir justru disuguhi narasi yang berulang: keluhan, pembelaan, dan penjelasan panjang dari pemerintah daerah. Sayangnya, semakin banyak cerita yang disampaikan, semakin terasa minim tindakan nyata yang menyentuh akar persoalan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) seolah terjebak dalam pola komunikasi defensif—lebih sibuk menjelaskan keterbatasan anggaran, kondisi geografis, hingga faktor eksternal—ketimbang menunjukkan langkah konkret yang terukur. Padahal, masyarakat tidak membutuhkan alasan, melainkan solusi.

Persoalan infrastruktur masih menjadi keluhan klasik yang belum menemukan titik terang. Jalan rusak, jembatan tak layak, hingga akses antarwilayah yang terisolasi masih menjadi realitas sehari-hari. Ironisnya, persoalan ini bukan barang baru. Ia berulang setiap tahun, masuk dalam dokumen perencanaan, namun minim realisasi yang signifikan.

Keluhan pemerintah tentang luas wilayah dan keterbatasan dana memang relevan. Namun, tanpa strategi prioritas yang jelas dan transparansi pelaksanaan, alasan tersebut justru terkesan sebagai pembenaran atas stagnasi.

Di sektor sosial, persoalan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan layanan dasar juga belum menunjukkan perbaikan berarti. Program-program yang digulirkan seringkali bersifat seremonial dan jangka pendek, tanpa keberlanjutan yang terukur.

Masyarakat membutuhkan kebijakan yang berbasis data dan keberpihakan nyata. Bukan sekadar kegiatan simbolik yang ramai di publikasi, namun sepi dampak di lapangan.

Di lini pelayanan publik, keluhan masyarakat masih berkutat pada hal yang sama: lamban, berbelit, dan kurang responsif. Reformasi birokrasi yang digaungkan belum sepenuhnya terasa di tingkat pelayanan dasar.

Standar pelayanan seringkali hanya berhenti di atas kertas. Sementara di lapangan, masyarakat masih harus berhadapan dengan prosedur panjang yang tidak efisien. Ini menunjukkan adanya jurang antara kebijakan dan implementasi.

Komunikasi publik memang penting. Namun, ketika narasi lebih dominan dibanding aksi, kepercayaan publik perlahan terkikis. Pemerintah seharusnya menjadikan komunikasi sebagai alat untuk menyampaikan progres, bukan sekadar pembenaran atas kegagalan.

Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai pengingat bahwa mandat pemerintahan adalah bekerja, bukan sekadar bercerita.

Saatnya Berbenah: Dari Retorika ke Realisasi

Kita semua berniat untuk membangun?  Jawabannya adalah Iya. Menurut hemat penulis,  ada beberapa langkah yang perlu segera diambil:

1.Penajaman prioritas pembangunan, dengan fokus pada kebutuhan paling mendesak masyarakat.

2.Transparansi anggaran dan progres program, agar publik dapat mengawasi secara langsung.

3.Penguatan pelayanan publik berbasis digital, untuk memangkas birokrasi yang berbelit.

4.Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Organisasi Perangkat Daersh (OPD), bukan sekadar formalitas laporan tahunan.

Pemkab Inhil perlu keluar dari zona nyaman retorika. Sebab, di luar ruang rapat dan konferensi pers, masyarakat masih bergulat dengan persoalan nyata yang menuntut penyelesaian, bukan penjelasan.

Jika tidak segera berbenah, maka yang tersisa hanyalah jurang antara pemerintah dan rakyatnya—jurang yang dibangun oleh kata-kata, namun runtuh oleh ketiadaan aksi.****

#Indragiri Hilir#Inhil#Tembilahan
Iklan

leaderboard

Komentar