leaderboard
Diklik.co - Balek dari studi banding ke kampung sebelah, Wak Labu tampak semakin serius memikirkan masa depan. Bukan masa depan tahun depan. Bukan limo tahun. Tapi… tahun 2045.
Di kedai kopi sambil melepak Wak Labu penuh wibawa langsung becakap
“Kito harus punyo roadmap pembangunan jangka panjang.”
Pak Mail berhenti menyesap kopi.
“Panjang macam mano, Pak?”
Wak Labu menjawab mantap:
“Menuju Kawasaki RT Emas 2045.”
Beberapa hari berikut Wak Labu bawa kertas beso ke balai warga.
Di atasnya tertulis:
ROADMAP PEMBANGUNAN RT 07
2026 – 2045
Isinya penuh panah, kotak, dan garis.
Sangat ilmiah, berisi dan tepat sasaran
Wak Labu menjelaskan satu per satu.
Tahap 1 (2026–2030)
Modernisasi kampung.
Tahap 2 (2030–2035)
Digitalisasi masyarakat.
Tahap 3 (2035–2040)
Transformasi ekonomi lokal.
Tahap 4 (2040–2045)
Parit Aman menjadi kampung percontohan nasional.
Warga mendengar dengan roman campur aduk.
Akhirnyo Pak Ujang angkat tangan.
“Pak RT, maso jabatan Pak RT tinggal duo tahun lagi kan?”
Sunyi.
Pertanyaan sederhana… tapi tajam menusuk
Wak Labu tersenyum diplomatis.
“Pemimpin harus berpikir jauh ke depan.”
Jawaban aman yang tak menjawab apa-apa.
Mak Siti menyolo pelan,
“Pak, lampu jalan depan rumah sayo masih mati.”
Pak Mail menambah,
“Parit belakang surau juga belum dikerjokan.”
Wak Labu menatap roadmap besar di dinding.
Lalu berkata bijak,
“Semua itu masuk dalam proses menuju 2045.”
Warga saling pandang.
Malam harinyao di kedai kopi topik roadmap menjadi bahan cerito.
Pak Beni mulai becakap:
“Kalau tunggu 2045, parit itu sudah jadi sungai kecil.”
Semuo ketawo.
Walau begitu, roadmap tetap ditempel di balai warga.
Kertas beso dengan garis dan panah.
Nampak sangat penting.
Cumo satu hal yang warga tahu pasti:
Di Kampung Parit Aman,
maso depan memang penting.
Tapi kadang masalah paling besar…
bukan yang terjadi duo puluh tahun lagi.
Melainkan yang ado di depan rumah hari ini.
Dan selama parit masih buntu…
warga tetap lebih percaya cangkul daripada roadmap. ☕😄
By Bang KR
(Cerita ini hanya hiburan semata)



