diklik.co
Gaya Hidup

Wak Labu Jadi Ketua RT : (Part 16) Wak Labu Akhirnya Bertemu Bupati

Redaksi
Redaksi
Dipublikasi12 Maret 2026
Wak Labu Jadi Ketua RT : (Part 16) Wak Labu Akhirnya Bertemu Bupati
Iklan

leaderboard

Diklik.co - Setelah beberapo hari menyusun daftar keluhan panjang, akhirnyo kesempatan itu datang jugo. Pak Bupati Safari Ramadan di ibukota kecamatan.... Berita itu sampai ke telingo Wak Labu lebih cepat daripado kabar perang Amerika dengan Iran.

Di kedai kopi posko Wak Labu biaso melepak dan memborak:

“Inilah kesempatan kito!”

Pak Mail tesengeh. 

“Kesempatan apo, Pak?”

Wak Labu menjawab mantap:

“Curhat langsung ke Bupati.”

-----------------

Sejak pagi Wak Labu sudah bersiap.

Baju kurung Melayu paling rapi dipakai.

Peci hitam disetrika.

Daftar keluhan dimasukkan ke kocek depan. 

Isinyo masih samo:

• Jalan RT 007 rusak

• Madrasah Ibtidaiyah kurang perhatian

• Pembangunan lebih banyak di ibu kota kabupaten

• Hargo kelapo murah

Semuo sudah disusun rapi.


Seperti biaso, Wak Labu tidak berangkat sendirian. 

Rombongan kecil ikut:

• Pak Mail

• Pak Ujang

• Bang Jali

Tim yang selalu setia sejak zaman rapat kedai kopi.

Mereka datang ke lokasi acara lebih awal.

Tujuannyo jelas:

mencari posisi dekat Bupati.


Ketika mobil Bupati tiba, suasana langsung ramai.

Orang-orang menyalami.

Panitia sibuk mengatur acara.

Wak Labu mulai gugup.

Tangan yang memegang daftar keluhan sedikit bepeluh singing. 


Akhirnyo Wak Labu mendapat kesempatan bersalaman dengan Bupati.

Pak Mail berbisik,

“Sekaranglah, Pak.”

Wak Labu mengangguk.

Ini saatnyo menyampaikan aspirasi rakyat.


Wak Labu membuka cerito dengan serius.

“Pak Bupati… saya Wak Labu, Ketua RT 007.”

Pejabat yang dipanggil Bupati tersenyum ramah.

“Yo, Pak RT. Sayo cumo mewakili Pak Bupati”

Wak Labu mungkin tak dengo karena pejabat tersebut menjawab lirih, dengan sigap membuka kertas kecil dari sakunyo.

Tapi sebab gugup… urutannya hilang dari kepalo.

Wak Labu akhirnya berkato cepat:

“Pak… jalan rusak… hargo kelapa murah… madrasah kurang perhatian… pembangunan banyak di kota… rayo tinggal sepuluh hari lagi…”

Pejabat yang mewakili Bupati senyap sebentar.

Pak Mail menunduk menahan senyum.

Karena keluhannya keluar seperti daftar belanja.


“Terima kasih Pak RT. Nanti tolong sampaikan jugo lewat camat dan kelurahan.”

Jawaban yang sangat diplomatis dari seorang pejabat mewakili Buhari. 


Begitu Rombongan safari ramadhan dari kabupaten pergi, rombongan kembali ke parkiran.

Pak Ujang betanyo pelan,

“Pak RT, semuo sudah disampaikan?”

Wak Labu mengangguk bangga.

“Lah. Semuo.”

Pak Mail tersenyum.

“Cumo urutannyo sajo yang sedikit… kreatif.”


Singkat cerito, besok malamnyo  di kedai kopi, cerito pertemuan dengan Bupati menjadi topik utama.

Bagi Wak Labu, hari itu sangat penting.

Dio merasa sudah menjalankan tugas sebagai pemimpin. 

Walau penyampaiannyo sedikit gugup.

Namun bagi warga Parit Aman, satu hal tetap paling penting:

Rayo tinggal sepuluh hari lagi.

Jalan mungkin belum diperbaiki.

Hargo kelapo mungkin belum naik.

Madrasah mungkin masih sami.

Tapi selamo warga tetap bisa berkumpul, tertawa, dan minum kopi bersamo…

kampung kecil itu tetap teraso hidup.

Dan Wak Labu tetap yakin…

kalau suatu hari nanti Bupati pasti ingat satu hal dari pertemuan itu:

ketua RT yang curhatnya cepat seperti orang membaco menu warung. ☕😄


By Bang KR

(Cerita ini hanya hiburan semata)

#Indragiri Hilir#Inhil#Tembilahan#Riau
Iklan

leaderboard

Komentar

Wak Labu Jadi Ketua RT : (Part 16) Wak Labu Akhirnya Bertemu Bupati | Diklik News