leaderboard
DIKLIK.CO - Setelah berbagai program digital, podcast, dan satgas yang hasilnyo masih samar-samar, Wak Labu akhirnya kembali ke program klasik.
Gotong royong.
Tapi tentu dengan nama yang lebih modern.
Di grup WhatsApp RT muncul pengumuman resmi:
“Mulai minggu depan kita luncurkan Program Jumat Bersih.”
Di bawah pengumuman itu ada emoji sapu, daun, dan otot kekar.
Hari Jumat pertama, warga datang pagi-pagi.
Pak Ujang bawa cangkul.
Pak Mail bawa sekop.
Mak Siti bawa termos teh.
Jam tujuh… warga sudah mulai bersihkan parit.
Jam tujuh lewat lima belas… Wak Labu belum nampak.
Jam tujuh lewat tiga puluh… masih sunyi.
Akhirnyo jam delapan Wak Labu muncul.
Datang perlahan dengan baju olahraga baru.
Tangan pegang ponsel.
Langsung ambil foto.
Selfie dulu.
Video sedikit.
“Dokumentasi penting,” gumam Wak.
Setelah ambil gambar, Wak Labu berdiri di pinggir.
Memberi arahan.
“Parit itu dibersihkan sampai ujung!”
Padahal warga sudah tahu dari tadi.
Lima menit kemudian Wak Labu rekam lagi video.
Caption langsung diunggah:
“Program Jumat Bersih berjalan sukses.”
Padahal parit masih setengah.
Pak Mail bisik ke Pak Ujang,
“Pak RT kerjonyo pakai kamera.”
Pak Ujang jawab pelan,
“Yang penting parit bersih.”
Filosofi sederhana orang kampung.
Menjelang selesai, Wak Labu akhirnya turun juga ke parit.
Ambil cangkul.
Semua warga menoleh.
Harapan muncul.
Tapi baru dua kali cangkul…
Wak Labu berhenti.
“Nanti saya lanjut setelah live sebentar.”
Meski begitu, parit tetap bersih.
Karena warga tetap kerja.
Tanpa menunggu konten selesai.
Petang, Wak Labu duduk di kedai kopi dengan bangga.
Katonyo,
“Program saya berhasil.”
Warga tak membantah.
Karena memang berhasil.
Cuma satu hal yang semua orang tahu:
Di Kampung Parit Aman,
program boleh datang dari siapa saja.
Tapi yang memastikan kampung tetap jalan…
tetap tangan warga yang bekerja tanpa banyak cerita.
Dan seperti biasa…
Wak Labu tetap rajin upload foto kerja.
Walau yang lebih banyak berkeringat tetap orang lain. ☕😄
By Bang KR
(Cerita ini hanya hiburan semata)



