leaderboard
Diklik.co - Sehari menjelang rayo, rumah Wak Labu sudah berubah macam balai pesta. Di halaman berdiri tenda besar. Kursi plastik tersusun rapi. Meja panjang siap untuk hidangan. Spanduk pun sudah terpasang: “OPEN HOUSE RT 007 – SILATURAHMI KITO SEMUA”
Pak Mail yang lewat mengangguk kagum.
“Pak RT ni beiye-iye bena”
Pak Ujang menambahkan,
“Kalau semacam ini satu kampung pun muat.”
Wak Labu tersenyum bangga.
Tapi menjelang petang, datang satu kabar.
Dari grup WhatsApp kecamatan.
Surat edaran pemerintah.
Isinyo ingkat tapi berat:
Open house skala besar dianjurkan untuk tidak dilaksanakan.
Alasan: Mengingat bencana yang melanda di tanah air.
Wak Labu membaco pesan itu berulang-ulang.
Mukonyo mulai berubah.
Dari bangga… jadi bingung.
Dari bingung… jadi lemas.
Di kedai kopi langsung diadakan rapat kecil.
Pak Mail bertanyo,
“Pak RT… jadi macam apo ? “
Wak Labu menghela napas panjang.
“Kalau ikut edaran… tenda harus dibongkar.”
Pak Ujang menatap tenda yang baru tegak sehari.
“menyanyah ini…”
Bang Jali mencoba memberi solusi,
“Kalau kita kecilkan sajo?”
Pak Mail langsung menyela,
“Kalau kecil… bukan open house lagi, jadi open pintu.”
Semuo tertawa… tapi suasana tetap berat.
Akhirnya Wak Labu berdiri.
Menatap tenda.
Lalu berkata pelan:
“Kito ikut aturan.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi berat untuk diucapkan.
Petang tu jugo tenda mulai dibongkar.
Tali dilepas.
Tiang diturunkan.
Kursi dikumpulkan.
Warga yang lewat hanya bisa melihat.
Tadi siang masih berdiri megah.
Sekarang tinggal bekas jejak di tanah.
Pak Mail berdiri di samping Wak Labu.
“Pak RT… ini pertamo kali sayo nengok tenda lebih cepat dibongkar daripada dipakai.”
Wak Labu hanya tersenyum tipis.
Malamnyo Wak Labu kembali duduk di kedai kopi.
Tanpa tenda.
Tanpa keramaian besar.
Tapi suasana tetap hangat.
Dia berkata pelan:
“Kadang rencana besar… harus kalah dengan aturan.”
Pak Ujang mengangguk.
“Yang penting silaturahmi tetap jalan, Pak.”
Pak Mail menambahkan sambil tersenyum:
“Tak ado tenda pun tak apo… asal kopi tetap ado.” ☕😂
Dan begitulah di Kampung Parit Aman.
Open house batal.
Tenda hilang.
Tapi tawa warga tetap ado.
Karena di kampung ini…
kebahagiaan tak selalu butuh acara besar.
Kadang cukup… satu meja kecil di kedai kopi.
By Bang KR
(cerita ini hanya hiburan semata)



