diklik.co
Gaya Hidup

Wak Labu Jadi Ketua RT : (Part 12) Wak Labu Buat Podcast Dapur MBG

Redaksi
Redaksi
Dipublikasi9 Maret 2026
Wak Labu Jadi Ketua RT : (Part 12) Wak Labu Buat Podcast Dapur MBG
Iklan

leaderboard

Diklik.co - Kelakuan Wak Labu, orang ke utara dio ke selatan. Kato Pak Mail jangan lewat Jalan itu, masih banyak lubang e, eeeee....jalan itu itu pulak dilajak e.

Kini banyak kritikan soal Makan Bergizi Gratis (MBG) ke Prabowo, Dio malah buat Dapur MBG ala Wak Labu. Menurut dio program Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) ternyata cukup ramai.

Anak-anak senang.

Ibu-ibu sibuk memasak.

Bapak-bapak rajin datang… apolagi saat makanan sudah siap.

Melihat suasana itu, Wak Labu mendapat ide baru.

Ide yang menurutnyo sangat modern.

“Podcast dari dapur”

Di kedai kopi Wak Labu menjelaskan rencananyo. 

“Program MBG ini harus dikemas secara inspiratif.”

Pak Mail betanyo pelan,

“Inspiratif macam mano, Pak?”

Wak Labu menjawab bangga:

“Kite buat Podcast Dapur MBG.”

Semua diam sejenak.

Sebab tak ado yang yakin dapur cocok untuk podcast.

Besok paginyo Wak Labu datang ke dapur dengan peralatan lengkap.

Tripod kecil.

Mikrofon murah.

Handphone yang kameranyo sudah penuh video selfie.

Di dapur sudah ado:

Mak Siti sedang menumis.

Mak Lina memotong bawang.

Mak Nur mengaduk sayur.

Aroma masakan sedap sekali.

Wak Labu duduk di kursi plastik.

“Assalamualaikum, selamat datang di Podcast Dapur MBG.”

Mak Siti masih sibuk mengaduk sayur.

Tak ado yang sempat memperhatikan.

Wak Labu mencubo betanyo, 

“Mak Siti, apo perasaan Mak ikut program ini?”

Mak Siti menjawab sambil memasak,

“Perasaan sayo.....bawang ni pedih di mato. “

Jawaban paling jujur dalam sejarah podcast.

Wak Labu mencubo lagi.

“Menurut Mak Lina, apa makna gotong royong?”

Mak Lina menjawab cepat,

“Maknanyo kalau bawang habis tolong ambilkan lagi.”

Podcast mulai berubah jadi percakapan dapur biaso. 

Video itu akhirnyo diunggah ke media sosial Wak Labu.

Yang paling banyak ditonton justru bagian ini:

Mak Siti berkata sambil tertawa,

“Pak RT ini lebih rajin merekam daripada membantu.”

Netizen langsung ketawa di kolom komentar.

Malamnyo di kedai kopi, Pak Mail membuka video itu.

Semua tertawa.

Pak Beni berkata,

“Podcast ini bagus.”

Pak Ujang betanyo, 

“Bagus di mano?”

Pak Beni menjawab,

“Bagus orang tahu siapo yang sebenarnyo kerjo.”

Sejak hari itu Podcast Dapur MBG tidak dilanjutkan lagi.

Bukan karena gagal.

Tapi karena ibu-ibu merasa satu hal penting:

Kalau terlalu banyak kamera di dapur…

masakan bisi hangus. 

Dan bagi warga Parit Aman,

masakan yang enak jauh lebih penting daripado podcast yang panjang.

Sementaro Wak Labu masih berpikir ide baru.

Katanyo di kedai kopi,

“Program berikutnyo harus lebih besar.”

Warga mulai curiga.

Kalau Wak Labu sudah bilang begitu…

biasanya akan muncul program yang lebih banyak spanduk daripado hasil. ☕😄

 

by Bang KR

(Cerita ini hanya hiburan semata)

#Indragiri Hilir#Inhil
Iklan

leaderboard

Komentar