leaderboard
Diklik.co - Sukses membuat Dapur MBG, Podcast Dapur, dan berbagai program strategis lainnyo, sebagai Ketua RT Wak Labu meraso permasalahan kampung Parit Aman sudah saatnyo dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Bukan lagi rapat RT. Bukan lagi rapat RW. Tapi langsung hearing ke DPRD.
Di kedai kopi Wak Labu style lepak macam biaso berpidato:
“Masalah rakyat harus kito bawa langsung ke wakil rakyat.”
Pak Mail hampir tesedak kopi mendengonyo.
“Masalah apo, Pak?”
Singkat jo Wak Labu jawab.
“Banyak.”
Jawaban yang luas sekali.
Supayo nampak serius e, Wak Labu membentuk rombongan kecil.
Anggotanyo:
• Wak Labu
• Pak Mail
• Pak Ujang
• Bang Jali
• Pak Beni
Tim yang samo yang biaso rapat di kedai kopi.
Transportasi:
dua motor dan satu mobil atas namo pinjam.
Semangat e macam nak sidang besar.
Sebelum berangkat, mereka duduk di kedai kopi untuk menyusun daftar masalah.
Pak Ujang membuka buku catatan.
“Masalah pertamo: parit belakang surau masih buntu.”
Pak Mail menambahkan,
“Jalan di lingkungan RT macam kolam ikan.”
Bang Jali menyela,
“Madrasah lah miring tiang penyangga”
Daftarnyo sederhana, singkat padat.
Masalah kampung.
Besok nyo berangkat lah rombongan RT 007 ke Kantor DPRD.
Begitu sampai di kantor DPRD, rombongan sedikit gugup.
Gedungnya besar.
AC sejuk.
Di depan ado posko security dan meja penerimo tamu.
Wak Labu terlihat percaya diri.
Padahal tadi di parkiran masih tanyo
“Ruang hearing itu di mano?”
Akhirnya mereka diterimo oleh salah satu staf anggota dewan.
Sebab semuo anggota dewan lagi kunjungan kerjo ke luar daerah
Pertemuan berlangsung sekitar dua puluh menit.
Wak Labu panjang lebar becakap.
Tentang visi kampung.
Tentang roadmap 2045.
Tentang transformasi sosial.
Pak Mail mulai khawatir waktu habis sebelum masalah disebut.
Akhirnyo staf dewan dengan lagak macam anggota dewan langsung betanyo,
“Jadi apo masalahnyo, Pak?”
Pak Ujang menjawab jujur,
“Parit kami buntu, Pak.”
Ruangan jadi sunyi sebentar.
Masalah besar yang dibawa jauh-jauh ternyata sangat sederhana.
Staf dewan yang belagak macam anggota dewan terkekeh ketawo.
“Kalau itu diajukan lewat kelurahan atau dewan dulu, Pak.”
Penjelasan yang sebenarnyo “selalu itu ke itu” macam dah hafal didengo.
Walau begitu, Wak Labu tetap merasa kunjungan itu sukses.
Di perjalanan balek dio becakap,
“Yang penting aspirasi sudah disampaikan.”
Pak Mail mengangguk.
Pak Ujang jugo mengangguk.
Walau dalam hati mereka tahu…
parit itu mungkin lebih cepat selesai kalau digotong royong sajo.
Malamnyo Wak Labu menulis di grup WhatsApp:
“Hearing dengan DPRD berjalan baik. Aspirasi masyarakat telah kami sampaikan.”
Warga membaci dengan tenang.
Mak Siti cumo menulis satu pesan:
“Besok gotong royong parit tetap jadi kan?”
Dan begitulah kisah hearing besar RT 07.
Perjalanan jauh.
Gedung besar.
Pertemuan resmi.
Tapi masalah yang dibawa tetap masalah kampung yang sederhana.
Di Parit Aman, warga akhirnyo mengerti satu hal:
Kadang jalan ke DPRD memang jauh.
Tapi jalan ke parit belakang surau…
sebenarnyo cumo lima menit dari rumah.
Dan kadang solusi paling cepat bukan rapat besar…
tapi cangkul dan kerja bersama. ☕😄
By Bang KR
(Cerita ini hanya hiburan semata)



