leaderboard
Diklik.co - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana Kampung Parit Aman mulai sibuk. Ibu-ibu mulai membuat kue. Anak-anak mulai menghitung THR. Bapak-bapak mulai memperbaiki rumah yang bocor.
Tinggal 10 hari lagi lebaran.
Tapi di tengah kesibukan itu, Wak Labu justru terlihat semakin serius.
Di kedai kopi habits tarawih dio dengan wajah berat becakap:
“Masalah kampung kito sudah tak boleh dipendam lagi.”
“Apo pasal, Pak RT, “ sambut Pak Mail.
Wak Labu menarik napas panjang.
“Banyak…”
Menurut Wak Labu, ada beberapo hal yang harus disampaikan langsung kepada Bupati.
Pertamo:
Jalan di RT 007 banyak yang rusak.
Kalau hujan turun, lubangnyo bisa berubah jadi kolam kecil.
Pak Beni pernah hampir jatuh motor karena mengira lubang itu cuma bayangan.
Keluhan keduo Wak Labu lebih serius.
Madrasah Ibtidaiyah di kampung kurang diperhatikan.
Cat dinding mulai pudar.
Halaman sekolah bekubang kalau hujan.
Padahal di situlah anak-anak kampung belajar mengaji dan membaco.
Mak Siti pernah cerito,
“Sekolah itu kecil, tapi penting untuk anak kampung.”
Keluhan ketigo Wak Labu mulai teraso “tingkat kabupaten”.
Menurutnyo pembangunan terlalu banyak di ibu kota kabupaten.
Lampu jalan terang.
Taman kota rapi.
Jalan mulus.
Sementaro di kampung seperti Parit Aman… masih banyak yang tertinggal.
Pak Ujang hanya mengangguk pelan.
Memang itu yang sering mereka rasakan.
Keluhan berikutnya datang dari kebun.
Harga kelapo lagi murah.
Bang Jali yang punyo kebun beberapa baris sajo mengeluh,
“Hargo kelapa turun… mane sayo bekarun dengan orang. Pedih, Pak RT”.
Kalimat sederhana tapi mewakili banyak petani kecil.
Akhirnya Wak Labu dengan semangat menyebut:
“Semuo ini harus kite sampaikan ke Bupati.”
Pak Mail langsung menatap Wak Labu.
“Pak RT kenal Bupati?”
Wak Labu terdiam sebentar.
Lalu menjawab,
“Belum… tapi nanti kito usahakan.”
Wak Labu mulai menulis daftar panjang.
1. Jalan rusak
2. Madrasah perlu perhatian
3. Pembangunan tidak merato
4. Hargo kelapo murah
5. Aspirasi masyarakat menjelang lebaran
Daftarnya serius.
Bahasonyo mulai teraso macam pidato besar.
Pak Ujang melihat daftar itu lalu pelan becakap
“Pak RT, kalau Bupati benar-benar datang ke kampung… apo yang pertamalo kito tunjukkan?”
Wak Labu menjawab cepat,
“Jalan yang rusak.”
Pak Mail menambahkan sambil tersenyum,
“Jangan lupo jugo tunjukkan kedai kopi kito.”
Semuo langsung tepingkal ketawo.
Walau sering menjadi bahan cerito lucu, warga tahu satu hal:
Di balik gaya Wak Labu yang suka pidato dan foto…
kadang ado jugo niat baik untuk menyuarakan kampung.
Karena di kampung kecil seperti Parit Aman…
jalan rusak bukan cumo soal aspal.
Madrasah bukan cumo soal bangunan.
Dan hargo kelapo bukan cumo angko di pasar.
Itu semua tentang kehidupan sehari-hari warga.
Apalagi Lebaran tinggal 10 hari lagi.
Saat orang kampung berharap satu hal sederhana:
jalan pulang kampung tetap bisa dilewati,
anak-anak bisa tetap belajar,
dan dapur tetap berasap.
Sementaro Wak Labu masih duduk di kedai kopi…
menyusun kalimat yang menurutnyo cocok untuk curhat ke Bupati. ☕😄
By Bang KR
(Cerita ini hanya hiburan belaka)



