leaderboard
DIKLIK.CO - Rayo tinggal tigo hari lagi di Kampung Parit Aman. Biasonyo waktu begini kampung mulai ramai. Perantau balek kampung Motor parkir di halaman rumah. Anak-anak berlari menyambut abang dan kakak yang balek dari kota.
Tapi tahun ini suasananya agak aneh.
Kampung… sepi.
Sejak pagi grup WhatsApp kampung penuh pesan.
Bukan pesan kabar kedatangan.
Tapi pesan pembatalan mudik.
Salah satu perantau menulis:
“Maaf Wak RT, kami batal balek. Jalan masuk kampung rosak berat.”
Yang lain menambahkan:
“Jembatan reyot . Macam nak roboh. Bahayo.”
Ado juga yang mengirim foto.
Jalannyo berlubang besar.
Air tergenang.
Persis kolam ikan lele.
Kemarin bahkan ado kejadian yang jadi bahan cerito kampung.
Motor Bang Udin melintas pelan di jembatan kayu yang sudah tuo.
Dak sangko papan jembatan patah.
Motor meloncat sedikit.
Bang Udin terbang…
macam Superman.
Bedonyo, Superman terbang ke langit.
Bang Udin terbangnyo langsung masuk sungai.
Untung airnyo tidak dalam.
Yang basah cume badan dan hargo dirinyo.
Mendengar kabar perantau banyak batal balek kampung, Wak Labu langsung tegak dari kursi kedai kopi.
Muko merah.
Lantang suaronyo:
“Ini tak boleh jadi!”
Pak Mail menatap pelan.
“Kenapo Pak?”
Wak Labu menunjuk jalan berlubang di depan kedai.
“Ini jalan macam kolam ikan lele!”
Bang Jali menambahkan santai,
“Kalau ditabur benih, bulan depan kito panen.”
Pasalnyo, Wak Labu sudah menyiapkan Panitia Penyambutan Perantau.
Strukturnyo lengkap:
Ketua: Pak Ujang
Koordinator Lapangan: Bang Jali
Bendahara: Mak Siti
Bahkan spanduk sudah siap:
“SELAMAT DATANG PERANTAU KAMPUNG PARIT AMAN.”
Sekarang spanduk itu tergantung sendirian.
Yang datang cume angin sore.
Wak Labu langsung mengadakan rapat darurat.
Agenda:
“Menyelamatkan Mudik Kampung.”
Pak Mail lirih
“Pak RT, masalahnyo bukan di panitia…”
Wak Labu bertanya,
“Di mano?”
Pak Mail menunjuk jalan berlubang.
“Di situ.”
Setelah berpike lamo, Wak Labu keluarkan ide.
“Besok kito goro tambal jalan!”
Pak Ujang mengangguk.
“Itu baru betol, Pak.”
Bang Jali menambahkan,
“Kalau tak ditambal, nanti ikan lele betol-betol masuk kampung.”
Malam itu Wak Labu duduk diam di kedai kopi.
Dio memandang jalan kampung yang berlubang.
Pelan dio berucap,
“Kalau jalan rosak, kampung pun teraso jauh.”
Pak Mail mengangguk.
Karena memang betol.
Kadang bukan jarak yang membuat orang sulit balek kampung.
Tapi jalan yang tak pernah diperbaiki.
Sementara di papan spanduk penyambutan perantau…
tulisan itu masih terbaca jelas.
“Selamat Datang Balek Kampung.”
Walau yang benar-benar datang hari itu…
baru Bang Udin yang terbang macam Superman dari jembatan rosak. ☕😂
By Bang KR
(Cerita ini hanya hiburan semata)



