leaderboard
Diklik.Co - Entah karena dapat kabar perang Amerika Serikat dan Israel versus Iran atau tak than Denver entah sebab dikritik warga karena program tak kunjung nampak, Wak Labu akhirnya membuat langkah besar.
Suatu pagi diumumkan lewat pengeras suara surau:
“Dalam rangka meningkatkan ketertiban kampung, dibentuk Satgas RT 007.”
Warga terkejut sekaligus kagum.
“Wah… akhirnya Pak RT kerjo jugo,” bisik Pak Mail.
Malam harinyo, warga dikumpulkan di kedai kopi — lokasi resmi segala keputusan strategis Wak Labu.
Dengan wajah serius, Wak Labu menunjuk anggota Satgas.
Pak Ujang jadi Ketua.
Pak Beni jadi Wakil.
Pak Mail jadi Sekretaris.
Semuo ditunjuk tanpa tanyo setuju atau tidak.
“Ini amanah masyarakat,” kata Wak Labu mantap.
Pak Ujang pelan bertanyo,
“Satgas apo tugasnyo, Pak RT?”
Wak Labu diam sebentar… minum kopi dulu.
“Untuk tugas… kite fleksibel lah,” jawab Wak Labu.
“Fleksibel macam mano?” tanyo warga lagi.
“Ya… tergantung situasi.”
Akhirnyo warga simpulkan sendiri:
Satgas ado, tapi kerjonyo belum ado.
---------
Besok paginyo anggota Satgas berkumpul.
Mereka ronda? Tak ado arahan.
Bersihkan parit? Tak ado perintah.
Jaga keamanan? Tak jelas jadwal.
Akhirnyo mereka duduk jugo di kedai kopi.
Ironisnyo, jumlah orang nongkrong malah bertambah.
Saat dikonfirmasi warga, Wak Labu menjelaskan dengan penuh keyakinan:
“Yang penting struktur dulu. Kerjo bisa menyusul.”
Menurutnyo, kampung maju harus ado organisasi.
Walaupun organisasinyo sendiri tak tahu nak buat apo.
---------
Seminggu kemudian, prestasi pertama Satgas akhirnya tercatat:
Membantu Wak Labu habiskan gorengan saat rapat dadakan.
Itu pun tanpa surat tugas.
Kini warga Kampung Parit Aman punya istilah baru:
Kalau ado kelompok dibentuk tapi fungsinyo tak jelas, orang langsung bilang,
“Itu Satgas Wak Labu.”
Dan Wak Labu sendiri merasa puas.
Dalam laporan bulanannyo, dio menulis:
-Satgas terbentuk
-Stabilitas kampung terjago
Walaupun yang terjago sebenarnyo cuma kursi kedai kopi… tetap penuh tiap hari. ☕😄
By Bang KR
(Cerita ini hanya hi Iran semata)



