leaderboard
Diklik.Co - soal ide dan gagasan, Wak Labu memang begelige. Merasa dunia media sosial mulai menerima kehadirannyo (walau lebih banyak akun jualan yang follow), Wak Labu naik level lagi.
Kini dio bikin podcast.
Judulnyo gagah:
“Ngopi Bareng Pemimpin.”
Tempat rekaman?
Sudut paling strategis di Kedai Kopi Bahagia.
Background: rak biskuit dan galon air isi ulang.
Mic satu pinjam dari anak Pak Ujang.
Tripod miring sedikit.
Lampu pakai bohlam putih warung.
Tapi Wak Labu yakin.
“Yang penting isi, bukan fasilitas,” katanya serius.
Padahal isinya nanti juga mutar-mutar.
Topik pertama:
“Kepemimpinan Visioner di Era Digital.”
Durasi direncanakan 20 menit.
Yang terjadi: 1 jam 15 menit.
Separuh waktu diisi cerita masa mudonyo hampir jadi ketua pemuda kecamatan.
Separuh lagi membahas pentingnyo berpikir besar.
Masalah kampung?
Tak sempat masuk segmen.
Bintang tamu pertama adalah Pak Mail.
Karena kebetulan duduk di sebelah.
Wak Labu tanyo:
“Bang Mail, menurut abang apo kunci sukses kepemimpinan?”
Pak Mail jawab singkat:
“Kejo, Pak.”
Sunyi tiga detik.
Lalu Wak Labu langsung ambil alih lagi.
“Betul! Kejo dengan visi besar!”
Padahal yang dimaksud Pak Mail bukan itu. Pak Mailnyo nak pegi kejo
Di tengah rekaman, terdengar suara:
“TEH SATU!”
Ternyata pelanggan lain pesan minum.
Podcast terhenti.
Wak Labu coba ulang kalimat tadi.
Tapi lupa di mana berhenti.
Akhirnyo mulai dari awal lagi.
Setelah diunggah, podcast dapat 9 pendengar.
Duo di antaronyo tertidur sebelum menit ke-10.
Satu lagi Mak Siti, karena penasaran namonyo disebut atau tidak.
Pak Ujang tulis di grup WhatsApp:
“Bagus Pak, tinggal tambah kerja nyata.”
Wak Labu balas dengan stiker jempol.
Tak jelas itu setuju atau mengalihkan.
Kini tiap minggu Wak Labu konsisten upload podcast.
Topiknyo selalu besar:
• Transformasi
• Inovasi
• Kolaborasi
Tapi tiap kali selesai rekaman, Pak Mail akan berkata santai,
“Pak RT, parit belakang surau masih buntu”
Dan seperti biasa, Wak Labu jawab pelan,
“Nanti kite bahas di episode berikutnyo.”
Karena di Parit Aman,
podcast boleh panjang.
Tapi kerja tetap tak boleh pending terlalu lama.
Dan mic boleh berbunyi tiap minggu…
Tapi warga tetap lebih percaya bunyi cangkul di tanah daripada bunyi teori di podcast. ☕😄
By Bang KR
(Cerite ini hanya hiburan semata)



