diklik.co
Gaya Hidup

Wak Labu Jadi Ketua RT Episode Penutup: Wak Labu Tetap Open House

Redaksi
Redaksi
Dipublikasi20 Maret 2026
Wak Labu Jadi Ketua RT Episode Penutup: Wak Labu Tetap Open House
Iklan

leaderboard

Pagi Rayo akhirnyo tibo di Kampung Parit Aman.

Langit cerah.

Takbir masih terngiang pelan.

Rumah-rumah sudah terbuka menyambut tamu.

Di rumah Wak Labu…

tenda memang sudah tak ado.

Tapi pintu rumah terbuka lebar.

Walau sempat dibatalkan karena surat edaran, Wak Labu tetap menjalankan niatnyo

Bukan lagi open house besar.

Bukan lagi pakai tenda.

Tapi open house sederhana.

Di ruang tamu ado:

• ketupat

• rendang

• kue raye

• dan tentu saja… kopi panas

Mak Long sibuk di dapur.

Wak Labu berdiri di pintu menyambut tamu satu per satu.

Yang datang bukan pejabat.

Bukan orang besar.

Tapi warga kampung sendiri.

Pak Mail datang lebih awal.

“Selamat Hari Rayo, Pak RT.”

Pak Ujang menyusul.

Bang Jali datang sambil tertawa.

Anak-anak berlarian di halaman.

Tak ada kursi rapi seperti rencana awal.

Sebagian duduk di tikar.

Sebagian berdiri sambil makan.

Sebagian lagi langsung ke dapur membantu Mak Long.

Tapi justru itu yang membuat suasana terasa hidup.

Tak lamo kemudian ruang tamu berubah seperti kedai kopi.

Topik yang dibahas masih samo:

• jalan rusak

• jembatan hampir roboh

• cerita motor terbang macam Superman

• dan tentu saja… cerita Wak Labu

Pak Mail berkata sambil tertawa,

“Pak RT, akhirnyo open house jugo.”Wak Labu tersenyum.

“Walau tak ado tenda… hati tetap terbuka.”

Di tengah keramaian itu, Wak Labu sempat duduk diam sebentar.

Melihat warga yang datang.

Melihat anak-anak tertawa.

Melihat Mak Long sibuk melayani tamu.

Dio trsenyum pelan.

Pelan dio becakap:

“Ternyato… yang penting bukan besar acaranyo.”

Pak Ujang yang duduk di sampingnyo mengangguk.

“Yang penting orangnyo datang, Pak.”

Pak Mail menambahkan,

“Dan kopinyo cukup.”

Semuo langsung tertawa.

Hari itu rumah Wak Labu tak pernah sepi.

Tak ado spanduk besar.

Tak ado panggung.

Tak ado pidato panjang.

Tapi penuh dengan:

tawa,

cerito,

dan kebersamaan.

Dan di kedai kopi petang hari, Pak Mail membuat kesimpulan paling sederhana:

“Wak Labu ini banyak rencano… tapi yang jadi indah justru yang sederhana.”

Wak Labu cume tersenyum.

Mengangkat cangkir kopi.

Dan untuk pertama kalinya…

Dio tak banyak cakap


TAMAT

Di Kampung Parit Aman, cerito Wak Labu mungkin selesai di sini.

Tapi selamo masih ado kedai kopi…

selamo masih ada orang kampung yang suko hal ehwal…

Namo Wak Labu tak akan hilang.

Sebab setiap kampung…

selalu punyo satu orang seperti dio. ☕😄


Kami Jajaran Manajemen dan Team Redaksi Diklik.co

Mengucapkan:

Selamat Idul Fitri 1447 H/2026 M

Minal Aidin Walfaidzin

Mohon Maaf Lahir Bathin

Iklan

leaderboard

Komentar